Senin, 07 November 2016


Ekonomi Kreatif

Ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Konsep ini biasanya akan didukung dengan keberadaan industri kreatif yang menjadi pengejawantahannya.

Tonggak Baru Ekonomi Kreatif Indonesia

Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki kinerja ekonomi paling hebat. Tahun 2015 lalu, kita mencatatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 4,79%, lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan hanya mencapai 2,4%. Iklim yang positif ini tentunya menjadi momen yang tepat bagi pemerintah untuk mengokohkan fondasi perekonomian, terutama pada sektor riil.

Salah satu sektor riil yang sangat layak menjadi prioritas adalah ekonomi kreatif. Presiden Joko Widodo optimistis bahwa ekonomi kreatif kelak menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Berbeda dengan sektor lain yang sangat tergantung pada eksploitasi sumber daya alam, kekuatan ekonomi kreatif lebih bertumpu kepada keunggulan sumber daya manusia. Karya seni, arsitektur, buku, inovasi teknologi, dan animasi, berasal dari ide-ide kreatif pemikiran manusia.

Untuk mewujudkan upaya tersebut, pada 20 Januari 2015, melalui
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi Kreatif, Presiden Joko Widodo membentuk lembaga baru non kementerian bernama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Badan ini bertanggung jawab terhadap perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Bekraf  bertugas membantu presiden dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan di bidang ekonomi kreatif.

Perpres tersebut juga menjelaskan bahwa Bekraf dinakhodai oleh kepala badan yang dibantu seorang  wakil, sekretaris utama, dan para deputi. Bekraf mempunyai enam deputi. Mereka adalah Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan; Deputi Akses Permodalan; Deputi Infrastruktur; Deputi Pemasaran; Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual dan Regulasi; dan Deputi Hubungan Antar Lembaga Dan Wilayah.

Bekraf mempunyai visi membangun Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dalam ekonomi kreatif pada 2030 nanti. Untuk mencapai visi tersebut, Bekraf merancang enam misi besar, yaitu:

  1. Menyatukan seluruh aset dan potensi kreatif Indonesia untuk mencapai ekonomi kreatif yang mandiri.
  2. Menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan industri kreatif.
  3. Mendorong inovasi di bidang kreatif yang memiliki nilai tambah dan daya saing di dunia internasional.
  4. Membuka wawasan dan apresiasi masyarakat terhadap segala aspek yang berhubungan dengan ekonomi kreatif.
  5. Membangun kesadaran dan apresiasi terhadap hak kekayaan intelektual, termasuk perlindungan hukum terhadap hak cipta.
  6. Merancang dan melaksanakan strategi yang spesifik untuk menempatkan Indonesia dalam peta ekonomi kreatif dunia.

Bekraf juga menetapkan ada 16 subsektor dari industri kreatif yang menjadi fokus untuk dikelola dan dikembangkan. Setiap deputi kemudian menerjemahkan visi dan misi di atas melalui berbagai program unggulan yang bisa diimplementasikan dalam konteks 16 subsektor tersebut. Terbentuknya Bekraf merupakan optimisme pemerintah bahwa ekonomi kreatif pasti akan menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Inilah awal tonggak baru ekonomi kreatif Indonesia. ***



Jokowi Terapkan BBM Satu Harga di Papua  

TEMPO.COJakarta - Presiden Joko Widodo menerapkan kebijakan bahan bakar minyak (BBM) satu harga di Papua dan Papua Barat. "Harganya seperti yang sekarang, contoh Rp 6.450 per liter," kata Jokowi dalam siaran tertulisnya, Selasa, 18 Oktober 2016.

Jokowi menilai, ada ketidakadilan bagi masyarakat Papua yang selama ini terus dibiarkan. Sebab, selama puluhan tahun, masyarakat di Indonesia bagian barat dan tengah telah menikmati harga BBM yang sama. Sementara, kata dia, masyarakat Papua harus membeli BBM dengan harga Rp 50-60 ribu, bahkan ada yang mencapai Rp 100 ribu per liter.

Jokowi lantas membandingkan kondisi kenaikan BBM di Pulau Jawa, Papua, dan wilayah timur lainnya. Menurut dia, masyarakat di Pulau Jawa biasanya langsung bereaksi jika terjadi kenaikan sebesar Rp 1.000. "Di sini, harga Rp 60 ribu per liter atau Rp 100 ribu per liter bertahun-tahun juga rakyat diam," ujarnya.

Jokowi berharap, kebijakan itu ke depannya dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian dan memperbaiki kesejahteraan rakyat Papua. Untuk mendukung sarana transportasi yang belum memadai, Jokowi menyiapkan dua buah pesawat pengangkut BBM guna mempermudah pendistribusiannya.


"Kita sekarang baru punya dua, nantinya tambah lagi tiga menjadi lima untuk di Papua dan Kalimantan Utara," katanya.

Pesawat yang mampu menjangkau daerah-daerah terpencil itu memiliki kapasitas angkut empat ribu liter. Anak usaha Pertamina, yakni PT Pelita Air Service, menjadi pengelola dalam pengoperasiannya.

Selain melakukan pengadaan pesawat penyalur BBM, Pertamina mengembangkan sembilan lembaga penyalur baru atau Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) yang tersebar di tujuh kabupaten di Provinsi Papua dan satu kabupaten di Papua Barat.
referensi:

www.bekraf.go.id
m.tempo.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar