Senin, 03 Oktober 2016

ISU-ISU GLOBAL & TREN GLOBAL




 ISU-ISU GLOBAL & TREN GLOBAL

Gejolak Global Tingkatkan Kerentanan Sistem Perbankan

Jakarta–Ancaman gejolak ekonomi global makin meluas, terutama bagi industri perbankan global. Survei “Banking Banana Skins 2015”, yaitu survei tentang risiko perbankan global menemukan, kekhawatiran para bankir akan kegagalan pemulihan ekonomi global dan dampaknya terhadap sistem perbankan yang masih rapuh makin bertambah.
Hasil survei tahunan global yang dilakukan oleh Centre for the Study of Financial Innovation (CSFI) bekerjasama dengan Price Waterhouse Coopers (PwC) menemukan bahwa iklim makro ekonomi menjadi urutan teratas kekhawatiran para responden, mengungguli peraturan yang berlebihan yang di waktu lalu  yang selalu mendapatkan peringkat tinggi dalam survei ini. Peraturan yang berlebihan yang menjadi kekhawatiran utama para responden tahun lalu turun peringkatnya dari posisi teratas ke posisi ketiga tahun ini.
Survei ini dibuat berdasarkan tanggapan yang diberikan oleh lebih dari 670 bankir, pembuat kebijakan perbankan dan pengamat industri perbankan di 52 negara. Hasilnya menunjukkan, bahwa para responden utama, yakni bankir, manajer risiko dan pengamat sangat khawatir soal kondisi ekonomi global.Kekhawatiran ekonomi juga kuat di seluruh kawasan geografis, meskipun mereka hanya berada di peringkat dua di Amerika Utara dimana responden Amerika dan Kanada lebih terfokus pada risiko kejahatan cyber.
“Hasil ini menunjukkan bahwa banyak orang yang was-was pemulihan ekonomi akan gagal dan menimbulkan kerusakan yang serius atas sistem perbankan.Ini merupakan prospek yang mengkhawatirkan,”ujar David Lascelles, Redaktur survei.
Kekhawatiran tentang risiko ekonomi digerakkan oleh tingginya peringkat hutang yang terjadi di sebagian besar belahan dunia yang disebabkan oleh pelemahan pertumbuhan di negara berkembang dan ketidakpastian tingkat bunga. Pasalnya, seluruh faktor ini dapat berdampak buruk pada sistem perbankan dimana tingkat solvabilitas perbankan, meskipun kondisinya semakin baik, masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Seorang supervisor senior perbankan mengatakan, tingginya tingkat hutang memperparah kerapuhan keuangan. Pembuat kebijakan dan bank telah mencetak kemajuan dalam mengurangi pengaruh tingkat hutang di sektor perbankan. Namun pengaruhnya masih terbilang tinggi. Dan semakin naiknya tingkat hutang debitur membuat bank rentan terhadap kejutan ekonomi.



Penurunan Prospek Global, Investor Makin Waspada

Jakarta – Ketidakpastian akan pemulihan ekonomi global telah meningkatkan risiko di pasar keuangan. Karenanya, tak mengherankan jika kini tampak bahwa atmosfer di pasar global secara umum tetap waspada.
Jameel Ahmad, Chief Market Analyst FXTM mengatakan, rendahnya selera risiko mengurangi ketertarikan investor terhadap pasar saham.
Sentimen ekonomi global secara umum dan selera risiko investor mungkin mengalami pukulan karena berita penurunan prospek global Bank Dunia. Baru-baru ini Bank Dunia memang memangkas pertumbuhan ekonomi sejumlah negara, termasuk Indonesia. Gejolak harga minyak, belum pulihnya harga komoditas dan kebijakan AS terkait suku bunga  menjadi pemicunya.
“Tentu saja ada sejumlah ketidakpastian lain yang menyebabkan memburuknya ketertarikan investor pada aset berisiko, contohnya ketidakpastian arah suku bunga AS dan referendum Uni Eropa mendatang” ujar dia. (*) 



Perekonomian Global: Eksposur Utang Meningkat

27 April 2016, MarketWatch mengulas mengenai utang yang semakin meningkat pascakrisis 2008. Sebelumnya juga ramai diberitakan mengenai eksposur utang China yang telah meningkat drastis dan diperkirakan mencapai level yang membahayakan. George Soros termasuk yang mengingatkan mengenai potensi krisis akibat utang di China yang meningkat signifikan dan berpotensi mempengaruhi stabilitas sistem keuangan dan ekonomi di negara lain.
Sejak krisis 2008 hampir semua Negara mengalami peningkatan utang yang signifikan. Tidak hanya Pemerintah, namun utang korporasi dan rumah tangga juga meningkat. Pemerintah berutang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui stimulus fiskal, sementara korporasi dan rumah tangga berutang karena tingkat bunga yang rendah akibat kebijakan moneter akomodatif pascakrisis. Peningkatan utang ini kini dipersoalkan sebagian pengamat yang mengkhawatirkan potensi krisis di masa mendatang.
McKinsey Global Institute dalam studi mengenai tren utang pasca krisis yang diterbitkan tahun lalu menyebutkan bahwa pasca krisis 2008 total utang global telah meningkat hampir USD60 triliun atau 75% dari total global GDP. Utang China sebagai contoh, telah meningkat dari sekitar USD7 triliun pada akhir 2007 menjadi USD28 triliun pada pertengahan 2014, naik empat kali lipat, dan mencapai level 282% terhadap GDP.
Menurut McKinsey Global Institute perkembangan utang di China telah mengkhawatirkan paling tidak untuk tiga alasan: (1) separuh utang tersebut berkaitan baik langsung maupun tidak langsung dengan properti, sementara pasar properti di China sudah menunjukkan gejala overheating, (2) sebanyak separuh dari utang baru terkait dengan praktik shadow banking, termasuk online lending, dan (3) banyak utang dari pemerintah daerah di China yang tidak aman atau tidak sustainable. Namun meskipun demikian McKinsey Global Institute melihat China memiliki kapasitas untuk melakukan bail out terhadap sektor keuangan seandainya terjadi krisis. Tantangan ke depan ialah bagaimana China mengelola perkembangan utang dan mengurangi risiko krisis tersebut, tanpa mengerem pertumbuhan ekonomi.
Terlepas dari China, apakah tren peningkatan utang global pasca krisis 2008 tidak sustainable? Secara umum ekonomi global yang mengalami peningkatan utang, namun tidak mampu meningkatkan permintaan agregat yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah panjang, berada di dalam jalur yang berisiko. Namun untuk melihat seberapa besar risikonya perlu memperhatikan beberapa faktor.
Faktor pertama yaitu komposisi utang, misalnya utang Pemerintah, rumah tangga, korporasi sektor nonkeuangan, dan korporasi sekor keuangan. Masing-masing sektor akan membawa dampak dan potensi risiko yang berbeda terhadap ekonomi. Utang sektor rumah tangga misalnya berisiko karena penurunan harga asset misalnya harga properti yang menjadi jaminan utang akan ditranslasikan secara cepat dalam bentuk pengurangan konsumsi, yang menjalar ke penurunan permintaan agregat, penurunan investasi dan produksi, pemecatan pekerja, peningkatan NPL perbankan dan penurunan pertumbuhan ekonomi.
Faktor kedua ialah tingkat pertumbuhan nominal (nominal growth), yaitu secara sederhana pertumbuhan riil (real growth) ditambah dengan inflasi. Saat ini pertumbuhan riil relatif rendah, sementara inflasi juga rendah. Kedua hal ini membawa dampak yang berbeda bagi kreditor maupun debitor. Bagi kreditor inflasi yang rendah membuat nilai aset meningkat, karena kenaikan harga aset lebih cepat dari inflasi. Sementara bagi debitor, inflasi yang rendah/turun membuat utang yang sudah dilakukan sebelumnya menjadi lebih besar (karena sudah mengunci pada tingkat bunga yang lebih tinggi sebelumnya). Akibatnya nilai perusahaan kreditor meningkat sementara debitor turun. Namun demikian dalam situasi pertumbuhan ekonomi riil yang menurun, risiko default meningkat. Sehingga pada dasarnya peningkatan nilai perusahaan kreditor merupakan ilusi. Jika terjadi default maka tidak akan ada pemenang (nobody wins).
Faktor ketiga yaitu kebijakan moneter dan tingkat bunga. Saat ini banyak ekonomi yang tingkat bunga acuannya sudah berada di sekitar nol persen. Bahkan beberapa sudah memasuki teritori tingkat bunga negatif. Tingkat bunga yang rendah membuat peningkatan utang sovereign seolah berada pada jalur yang aman. Kebijakan moneter yang sangat akomodatif meningkatkan insentif bagi sovereign untuk lebih banyak berutang. Apabila utang tersebut digunakan untuk hal-hal yang positif seperti untuk belanja investasi, infrastruktur dan termasuk juga subsidi langsung yang tepat, maka peningkatan utang akan terjustifikasi. Namun jika utang digunakan untuk belanja operasional termasuk membayar bunga utang maka utang tersebut sejatinya sudah tidak sustainable.
Dalam hal ini Indonesia semestinya mulai memikirkan jalan keluar dari keseimbangan primer yang dalam beberapa tahun terakhir ini selalu negatif. Keseimbangan primer yang negatif berarti penambahan utang dilakukan untuk membayar bunga utang, tidak hanya untuk membiayai kembali utang yang jatuh tempo. Kondisi ini jika dibiarkan akan membuat utang menjadi tidak sustainable.
Pada kesimpulannya dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi, perhatian khusus perlu diberikan pada jenis utang yang diakumulasi oleh suatu ekonomi. Utang yang digunakan untuk meningkatkan investasi merupakan ide yang bagus. Sebaliknya utang yang digunakan untuk membiayai operasi saat ini, dan juga untuk meningkatkan permintaan agregat dalam jangka pendek merupakan utang yang berisiko. Utang publik harus diarahkan untuk mendorong investasi termasuk mendorong investasi swasta. (*)
Penulis adalah staf Wakil Ketua DK OJK 




Menelisik Peluang Bertahannya Penguatan Rupiah

Jakarta- Penguatan nilai tukar Rupiah yang terjadi pada Selasa 6 Oktober diklaim menjadi penguatan tertinggi dalam sehari sejak 2009. Selama kurang lebih seminggu terakhir, mata uang Garuda pernah mencapai titik tertingginya hingga di kisaran Rp14.700-an. Semantara Selasa 6 Oktober kemarin, nilai tukar Rupiah ditutup pada level Rp14.245 per USD, menguat sekitar Rp500 dalam seminggu.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Doddy Zulverdi menuturkan, penyebabnya adalah kombinasi tiga faktor. Pertama, adalah Paket Kebijakan Ekonomi Jilid II Pemerintah yang dikeluarkan 29 September lalu, paket yang dikeluarkan antara lain soal pemangkasan perizinan, dan penurunan pajak bunga deposito Devisa Hasil Ekspor.
Faktor kedua adalah Paket Kebijakan Lanjutan BI yang berfokus pada tiga pilar, dan bobot paling besar adalah melancarkan pasokan valas dan menekan permintaan Dollar. Terkait dua kebijakan ini, Doddy menyebut membutuhkan waktu untuk dipahami oleh investor. Kendati demikian, respon positif tersebut menunjukkan, kebijakan itu telah dapat dipahami oleh pasar dan menyebabkan peningkatan kepercayaan investor.
Faktor ketiga adalah kondisi global yang kondusif. Hal itu tercermin dari data ekonomi Amerika Serikat yang tidak sesuai ekspektasi sebelumnya, sementara Pemerintah China bersama Bank Sentral China mengambil kebijakan untuk mendorong petumbuhan ekonomi China.
Seperti diketahui, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan tenaga kerja pada September 2015 sebanyak 142.000. Sementara para ekonom memperkirakan ada sekitar 202.000 penambahan tenaga kerja. Pada  Agustus angkanya direvisi turun, dari 173.000 menjadi 136.000, dan pada Juli direvisi menjadi 223.000 dari sebelumnya 245.000. Artinya, tingkat pengangguran tetap sebesar 5,1%, menyusul banyaknya warga yang keluar dari angkatan kerja.
Persentase warga AS dalam angkatan kerja menurun menjadi 62,4%, level terendah sejak Oktober 1977. “Jadi kombinasi tiga faktor itu, tadi menjadi kontribusi langkah pemerintah,yakni, langkah BI yang mendorong supply valas, dan kondisi global. Faktor tersebut yang  menyebabkan penguatan.
Doddy melanjutkan, hari ini puncaknya yang terbesar, sebab, dalam sehari (Ruoiah) menguat Rp245. ” Jadi memang faktor-faktor itu satu paket yang menyebabkan nilai tukar kita khususnya hari ini menguat,” kata Doddy di Jakarta, Selasa 6 Oktober 2015 malam.
Doddy juga meyakini, faktor domestik menjadi salah satu penyebab penguatan pasalnya. Jika biasanya fluktuasi Rupiah seiring dengan fluktuasi mata uang regional, hari ini berbeda. Mata uang Garuda menjadi mata uang dengan penguatan tertinggi di kawasan. Rupiah menguat 1,7%, Korean Won hanya menguat 0,5%, dan Peso Filipina menguat 0,01%, Sementara mata uang negara di kawasan lain tetap terdepresiasi.
“Jadi bukan karena dominasi faktor regional, ini yang membuat saya yakin faktor domestik yang spesifik membuat penguatan Taiwan Dolar, Thai Baht, Indian Rupee, Malaysia Ringgit semua masih depresiasi yang menguaat hanya Indonesia, Korea Selatan dan Filipina, Jadi kalau ditanya tiga faktor tadi, kebijakan Pemerintah mulai dipahami, didukung kebijakan BI yang memberi arah supply forward meningkat, dan  faktor global,” tambahnya.
Kendati demikian ia sulit menjawab pertanyaan apakah penguatan ini akan berumur panjang. Pasalnya risiko ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika serta kebijakan ekonomi Tiongkok masih menjadi tantangan yang perlu dihadapi. Namun jika dilihat dari faktor domestik menurutnya akan mendukung sentimen penguatan Rupiah berumur panjang.
“Memang faktor risiko terhadap persepsi negatif investor asing masih ada, jadi penguatan ini masih ada risiko ke depa. Tapi sepanjang kita bisa dengan rangkaian kebijakan Pemerintah dan BI dan ekonomi domestik yang secara perlahan membaik, mungkinn perkiraan kami bisa memitigasi risiko dari global khususnya langkah kebijakan bank sentral Amerika,” tandasnya.
Sementara itu,  ekonom Mandiri Sekuritas, Aldian Taloputra menilai kebijakan lanjutan BI memang membantu menstabilkan nilai tukar. Aldian menilai, kebijakan itu akan membantu menstabilkan nilai tukar. “Likuiditas rupiah yang sedang ketat dan ditambah dengan supply swap yang terbatas dari bank sentral meningkatkan beban pendanaan rupiah, dan menaikkan beban untuk memiliki mata uang dolar AS,” kata dia dalam keterangan tertulisnya Selasa 6 Oktober 2015
Kondisi itu tercermin dari kenaikan pada suku bunga antar bank Jakarta (JIBOR) harian untuk rupiah dan valas yang mencerminkan swap poin 1 bulan menjadi 8% dan 16,3% yang merupakan posisi paling tinggi pekan lalu.
“Kami menilai likuiditas rupiah yang ketat itu merupakan usaha untuk menyediakan sedikit waktu ketika BI mencoba untuk mengurangi depresiasi nilai tukar,” tambahnya. Karena itu, kebijakan itu juga akan menghadapi beberapa konsekuensi yang tidak diprediksi sebelumnya.
Kondisi ini selanjutnya memang tidak berdampak pada perbankan. Namun BI menyebut kondisi likuiditas rupiah (LDR) industri perbankan melunak menjadi 88,5% pada Juli 15. Dampak besar, tambah Aldian kemungkinan akan lebih terasa pada pasar obligasi.
“Dengan ekspektasi melemahnya nilai tukar, kenaikan beban rupiah financing dapat menahan aliran dana masuk ke obligasi pemerintah,” tutup Aldian. 


Referensi:


infobanknews